Sunday, 16 August 2015

KESULTANAN DELI

KESULTANAN  DELI

Kesultanan Deli adalah sebuah kesultanan yang didirikan pada tahun 1669 oleh Tuanku Panglima Perunggit di wilayah bernama Tanah Deli (kini Medan, Indonesia).


Sejarah
Menurut Hikayat Deli, seorang pemuka Aceh bernama Muhammad Dalik berhasil menjadi laksamana dalam Kesultanan Aceh. Muhammad Dalik, yang kemudian juga dikenal sebagai Gocah Pahlawan dan bergelar Laksamana Khuja Bintan (ada pula sumber yang mengeja Laksamana Kuda Bintan), adalah keturunan dari Amir Muhammad Badar ud-din Khan, seorang bangsawan dari Delhi, India yang menikahi Putri Chandra Dewi, putri Sultan Samudra Pasai. Dia dipercaya Sultan Aceh untuk menjadi wakil bekas wilayah Kerajaan Haru yang berpusat di daerah sungai Lalang-Percut.

Dalik mendirikan Kesultanan Deli yang masih di bawah Kesultanan Aceh pada tahun 1630. Setelah Dalik meninggal pada tahun 1653, putranya Tuanku Panglima Perunggit mengambil alih kekuasaan dan pada tahun 1669 mengumumkan memisahkan kerajaannya dari Aceh. Ibu kotanya berada di Labuhan, kira-kira 20 km dari Medan.

Sebuah pertentangan dalam pergantian kekuasaan pada tahun 1720 menyebabkan pecahnya Deli dan dibentuknya Kesultanan Serdang. Setelah itu, Kesultanan Deli sempat direbut Kesultanan Siak Sri Indrapura dan Aceh.

Pada tahun 1858, Tanah Deli menjadi milik Belanda setelah Sultan Siak, Sharif Ismail, menyerahkan tanah kekuasaannya tersebut kepada mereka. Pada tahun 1861, Kesultanan Deli secara resmi diakui merdeka dari Siak maupun Aceh. Hal ini menyebabkan Sultan Deli bebas untuk memberikan hak-hak lahan kepada Belanda maupun perusahaan-perusahaan luar negeri lainnya. Pada masa ini Kesultanan Deli berkembang pesat. Perkembangannya dapat terlihat dari semakin kayanya pihak kesultanan berkat usaha perkebunan terutamanya tembakau dan lain-lain. Selain itu, beberapa bangunan peninggalan Kesultanan Deli juga menjadi bukti perkembangan daerah ini pada masa itu, misalnya Istana Maimun.

Kesultanan Deli masih tetap eksis hingga kini meski tidak lagi mempunyai kekuatan politik setelah berakhirnya Perang Dunia II dan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia.

Sultan Deli
Sultan Deli adalah penguasa Kesultanan Deli di Sumatra Utara, Indonesia. Sultan Deli dipanggil dengan gelar Sri Paduka Tuanku Sultan. Jika mangkat, sang Sultan akan digantikan oleh putranya.

Daftar Sultan-sultan Deli

1.       Tuanku Panglima Gocah Pahlawan 1632-1669
2.       Tuanku Panglima Parunggit 1669-1698
3.       Tuanku Panglima Padrap 1698-1728
4.       Tuanku Panglima Pasutan 1728-1761
5.       Tuanku Panglima Gandar Wahid 1761-1805
6.       Sultan Amaluddin Mangendar 1805-1850
7.       Sultan Osman Perkasa Alam Shah 1850-1858
8.       Sultan Mahmud Al Rasyid 1858-1873
9.       Sultan Ma'moen Al Rasyid 1873-1924
10.     Sultan Amaluddin Al Sani Perkasa Alamsyah 1924-1945
11.     Sultan Osman Al Sani Perkasa Alamsyah 1945-1967
12.     Sultan Azmy Perkasa Alam Alhaj 1967-1998
13.     Sultan Otteman Mahmud Perkasa Alam 5 Mei 1998–21 Juli 2005
14.     Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam 22 Juli 2005–saat ini

Sultan Otteman Mahmud Perkasa Alam
Letnan Kolonel (Infantri) Tuanku Sultan Otteman III Mahmud Ma'amun Padrap Perkasa Alam Shah atau cukup disingkat Tito Otteman (Kuala Lumpur, Malaysia, 30 Agustus 1966–Lhokseumawe, 21 Juli 2005) adalah Sultan Deli ke-13 yang memerintah dari 5 Mei 1998 hingga 21 Juli 2005. Dia meninggal saat pesawat CN-235 yang ditumpanginya bersama dua rekan TNI lainnya tergelincir di Pangkalan Udara Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh.

Saat wafat, Otteman telah bertugas selama 10 bulan di Langsa, Aceh. Ia merupakan anak kedua dari 3 bersaudara. Dari pernikahannya dengan Ir. Hj. Siska Marabintang, dia memperoleh dua orang anak, Aria Lamanjiji dan Zulkarnain Otteman Mangendar Alam.

Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam
Sri Sultan Mahmud Aria Lamanjiji Perkasa Alam Shah atau cukup disingkat Aria Lamanjiji (lahir 17 Agustus 1997 di Makassar, Sulawesi Selatan) adalah Sultan Deli ke-14 yang memerintah sejak 22 Juli 2005. Dia adalah Sultan Deli termuda dalam sejarah. Sultan termuda sebelumnya adalah Sultan Ma'moen Al Rasyid (1873-1924) yang diangkat saat berusia 15 tahun.

Karena belum akil balik atau belum dewasa menurut ajaran Islam, tampuk kepemimpinan akan dipegang oleh paman ayahnya, Tengku Hamdy Osman Deli Khan.


Sebelum diangkat menjadi Sultan, Lamanjiji sedang bersekolah di sebuah SD di Jawa Barat.


http://www.zonawin.com
Taruhan Bola

No comments:

Post a Comment