Bagian Keempat
“Tetapi di
balik itu ada kesan bahwa Soekarno tak terlalu bersikeras menunjukkan upaya
menganulir keputusan pembubaran PKI itu,
meskipun sesekali tetap mengeluarkan
pernyataan-pernyataan keras. Timbul spekulasi bahwa ia sebenarnya telah
mengalah pada Soeharto mengenai soal PKI ini, hanya saja ia tak mau memakai
tangan dan mulutnya sendiri melakukan pembubaran itu. Dan adalah Soeharto yang
melakukan hal itu 12 Maret setelah melalui suatu lekuk-liku proses kekuasaan
yang khas Jawa bagaikan dalam dunia pewayangan antara dirinya dengan
Soekarno”.
Pintu menuju
kekuasaan baru
BUTIR-BUTIR
yang terkandung dalam Surat Perintah 11 Maret 1966 dari Soekarno kepada
Jenderal Soeharto, untuk sebagian adalah butir-butir karet yang bisa serba
tafsir, baik bagi Soekarno maupun bagi Soeharto. Akhirnya, siapa yang lebih
memiliki kekuatan akan menang dalam penafsiran. Bilamana Soekarno masih
memiliki kekuatan lebih, maka Jenderal Soeharto sebagai pemegang Surat Perintah
tersebut, akan menjadi alat keamanan belaka bagi Soekarno. Dan pada waktunya,
pasti akan dicabut.
Tetapi
faktanya, saat itu kekuatan Soekarno sedang mengalami erosi, meski belum
longsor sama sekali. PKI yang menjadi pendukung dan sekutu taktisnya untuk
seberapa lama, sedang mengalami proses pembasmian serentak di seluruh penjuru
Indonesia, setelah teropinikan sebagai pelaku makar dan pelaku kekejaman membunuh
enam jenderal dan seorang perwira pertama di Jakarta ditambah dua perwira
menengah di Yogyakarta melalui Gerakan 30 September. Sedang Soekarno sendiri
tampaknya bersikeras untuk tidak membubarkan PKI, dan memilih menentang arus
utama opini kala itu.
Sementara
itu, PNI yang semestinya menjadi sumber dukungan strategis bagi Soekarno,
setelah peristiwa ikut mengalami imbas karena dalam opini masa lampau
tergambarkan sebagai partner PKI dalam struktur Nasakom. Apalagi, Sekertaris
Jenderal PNI Ir Surachman diindikasikan sebagai berideologi kiri. Selain itu,
secara faktual, sejak lama internal PNI juga tidak utuh, dan segera setelah
Peristiwa 30 September, sayap ini melepaskan‘ diri sebagai PNI Osa-Usep.
Pemisahan diri ini menyebabkan pembelahan kekuatan PNI secara nasional,
termasuk di tingkat organisasi sayap.
Meskipun
sebagian pengikut PNI Osa-Usep masih mendukung Soekarno, tetapi tak kurang pula
yang berangsur-angsur berubah menjadi penentang Soekarno. Tokoh GMNI Jawa
Barat, Sjukri Suaidi misalnya, yang tergabung dalam kesatuan aksi bahkan sampai
kepada pernyataan meragukan kepantasan Soekarno untuk tetap dianggap sebagai
Bapak Marhaen. Sementara itu tokoh GMNI yang lain, mahasiswa ITB Siswono
Judohusodo yang pertengahan Januari ikut dalam Barisan Soekarno, tersudut ke
dalam suatu posisi dilematis. Kendati ia adalah pemuja Soekarno, pada dasarnya
sebagai mahasiswa yang rasional ia juga bisa membenarkan pendapat
rekan-rekannya sesama mahasiswa ITB bahwa Soekarno yang telah terlalu lama
berkuasa dan pada masa-masa terakhir kekuasaannya kala itu telah tergelincir
melakukan sejumlah kekeliruan politik, sudah saatnya untuk diakhiri
kekuasaannya.
Menurut
Siswono, mengenai Soekarno ada tiga kelompok sikap. Yang pertama, apapun,
pokoknya Bung Karno tak boleh diapa-apakan. Yang kedua, adalah sebaliknya,
Soekarno memang harus mendapat pelajaran dan harus diganti dan tidak perlu
dengan cara terhormat. Yang ketiga, memang sudah saatnya Soekarno diganti,
tetapi hendaknya dengan cara yang terhormat, tanpa merendahkannya. Siswono
masuk ke dalam kelompok ketiga ini. Ia tidak setuju dengan yang pertama,
sebagaimana ia menolak sikap kelompok kedua yang telah merendahkan Soekarno.
Apakah orang
yang berjasa seperti itu dianggap sebagai maling yang bisa ditendang begitu
saja?‖. Karena mayoritas mahasiswa Bandung secara dini merupakan barisan anti
Soekarno, maka Siswono dianggap berada di ‗seberang‘, meskipun ia pernah dalam
kebersamaan pada Peristiwa 10 Mei 1963. Apalagi kemudian ia bergabung dengan
barisan Soekarno, dan melakukan pendudukan kampus ITB di bulan Pebruari sewaktu
mahasiswa ITB baru saja memulai suatu long march ke Jakarta.
Ia mengaku
menduduki kampus agar long march batal. Karena, long march itu
akan berdampak terjadinya benturan luar biasa. Ia kuatir mahasiswa-mahasiswa
itu akan berhadapan dengan pendukung-pendukung Soekarno yang tidak ingin
Soekarno diturunkan, apalagi dengan cara tidak terhormat. Keterlibatannya dalam
pendudukan kampus ITB, membuat Siswono ditangkap oleh Siliwangi pada bulan
Maret dan ditahan sampai April. Tentang Barisan Soekarno yang terlibat dalam
tindak kekerasan dalam Peristiwa 19 Agustus 1966, ia memberi penjelasan, itu
tidak dilakukan oleh Barisan Soekarno yang saya pimpin. Ia mengaku, saya
sendiri tidak tahu dari mana orang-orang yang banyak itu.
Sementara
itu adalah ironis pula bahwa tatkala di berbagai daerah PNI menjadi tumbal yang
berpasangan dengan PKI dan di daerah lainnya lagi bahkan menjadi tumbal
pengganti bagi PKI, justru di daerah basisnya di Jawa Tengah dan juga Jawa
Timur serta Bali, PNI mengalami benturan dengan massa PKI dalam pola pilihan lebih
dulu membantai atau dibantai‘. Dengan aneka ragam sikap dalam tubuh PNI, serta
aneka masalah yang dihadapi lapisan massa PNI, sebagai resultante tercipta PNI
yang tidak siap menjadi pendukung handal bagi Soekarno untuk saat itu, dalam
artian hanya cukup untuk keperluan defensif.
Situasi
terberat yang dihadapi Soekarno kala itu adalah bahwa ia sebenarnya mulai tersisih
setidaknya berkemungkinan untuk itu dari arus utama opini dan pengharapan
rakyat yang telah melangkah ke tahap memikirkan suatu perubahan, dan tinggal
memiliki sisa-sisa penghormatan berdasar paternalisme dari sebagian rakyat.
Kaum elite Jakarta yang pada hakekatnya banyak menyerap referensi pemikiran dan
gaya kehidupan barat yang modern misalnya, di bawah permukaan sejak lama telah
merasa terganggu kebebasannya oleh Soekarno yang melakukan serba pembatasan.
Mulai dari
pelarangan film-film barat, dansa barat jenis baru sampai kepada permusuhan
terhadap musik yang disebutnya sebagai ngak-ngik-ngok terutama
The Beatles dari Inggeris dan Koes Bersaudara padahal musik-musik
dinamis itu memikat hati kaum muda terutama dari kalangan elite yang sebenarnya
lebih nyaman dan terbiasa dengan hal-hal yang berbau barat. Soekarno juga
merampas kebebasan pilihan cara berpakaian dan bersikap, dengan intervensi
untuk mengatur soal pakaian dan cara bersikap lainnya yang harus sesuai dengan
kepribadian nasional.
Sementara
itu, perlahan namun pasti, kalangan rakyat di lapisan akar rumput, mulai jenuh
akan kemelaratan ekonomi yang berkepanjangan dan mengalami pengikisan rasa
percaya kepada pemerintahan Soekarno kendati masih mendua karena masih
terdapatnya sisa rasa pemujaan mereka terhadap Soekarno.
Selain
Soekarno, tentu saja PKI dengan segala provokasi anti barat dan anti kebebasan
perorangan, menjadi sasaran kebencian terpendam dan atau sasaran pantul dari
mereka yang masih mendua terhadap Soekarno, seperti misalnya yang banyak
terjadi di kalangan elite pengikut PNI. Tapi dalam banyak kasus, PNI sendiri
justru juga mengalami bias kebencian itu. Ini menjelaskan, kenapa seruan
Soekarno untuk membentuk Barisan Soekarno dalam realitanya hanya mampu
menimbulkan riak-riak kecil perlawanan untuk pembelaan Soekarno, namun tak
pernah mencapai tingkat yang signifikan untuk membalikkan posisi Soekarno yang
melemah.
Dengan Surat
Perintah 11 Maret di tangannya, Letnan Jenderal Soeharto langsung membubarkan
PKI dan seluruh organisasi mantelnya, keesokan harinya. Sejak gerak cepatnya
berhasil membersihkan Jakarta dari Gerakan 30 September, Soeharto telah tampil
di mata mahasiswa, pelajar, pemuda dan rakyat pada umumnya sebagai pahlawan
penyelamat. Dan dalam tempo yang cukup cepat dan sistimatis mematahkan mitos
kekuasaan Soekarno.
Kini dengan
pelimpahan surat perintah tanggal 11 Maret itu dari Soekarno, ia melangkah
setapak lagi lebih ke depan ke dalam kekuasaan negara, dan mengawali kelahiran
mitos baru sebagai pahlawan yang dengan kesaktian Pancasila telah menyelamatkan
bangsa dan negara dari malapetaka bahaya komunis.
Dengan
posisi dan situasi baru di atas angin, penafsirannya terhadap butir-butir Surat
Perintah 11 Maret itu, lebih unggul. Meskipun dalam setiap kesempatan formal
Soekarno masih selalu menolak pembubaran PKI, Soeharto toh melakukannya melalui
suatu surat keputusan selaku pengemban Surat Perintah 11 Maret 1966. Konsep
surat keputusan pembubaran itu, disusun oleh Kolonel Sudharmono SH dan Letnan
Drs Moerdiono berdasarkan perintah Soeharto melalui Ketua G-5 KOTI Brigjen
Soetjipto.
Cukup
menarik bahwa Soekarno tidak secara spontan bereaksi terhadap tindakan Soeharto
yang mempergunakan Surat Perintah 11 Maret itu untuk membubarkan PKI. Nanti
setelah beberapa menteri dalam kabinetnya, terutama Soebandrio,
mempersoalkannya, barulah ia menunjukkan complain. Suatu kemarahan yang
mungkin saja artifisial, lalu ditunjukkan oleh Soekarno. Menurut penuturan
Sajidiman Surjohadiprodjo yang waktu itu adalah perwira staf di Markas Besar
Angkatan Darat dengan pangkat Kolonel, Soekarno menganggap Soeharto telah
melampaui wewenang.
Itu
dinyatakannya kepada Amirmahmud, salah seorang perwira tinggi yang menjemput
Surat Perintah 11 Maret di Istana Bogor dua hari sebelumnya. Panglima Kodam
Jaya ini menjawab bahwa sesuai surat perintah itu, Soeharto memang berhak
bertindak untuk dan atas nama Presiden Soekarno, sepanjang hal itu perlu
menjamin keamanan dan menjaga kewibawaan presiden. Namun, tulis Sajidiman, Presiden
Soekarno tidak dapat menerima argumentasi itu dan memanggil panglima angkatan
lainnya.
Digambarkan
adanya peranan Soebandrio untuk menimbulkan kegusaran Soekarno, dengan
menyampaikan informasi bahwa Jenderal Soeharto dan TNI-AD bermaksud akan
menyerang Istana Presiden. Karena informasi itu, angkatan-angkatan lainnya
mengadakan konsinyering pasukan. Jakarta menghadapi kegawatan besar, karena
setiap saat dapat terjadi pertempuran antara TNI-AD dengan tiga angkatan
lainnya. Untunglah, kemudian Jenderal AH Nasution berhasil memanggil ketiga
panglima angkatan lainnya.
Meskipun
waktu itu Pak Nas tidak mempunyai legalitas untuk melakukan hal itu, tetapi
wibawanya masih cukup besar untuk membuat ketiga panglima bersedia hadir. Juga
diundang Panglima Kostrad yang diwakili oleh Mayor Jenderal Kemal Idris, Kepala
Staf Kostrad. Dalam pertemuan itu dapat dijernihkan bahwa sama sekali tidak ada rencana
TNI-AD untuk menyerang Istana Presiden dan Pangkalan Halim. Pasukan Kostrad
melakukan kesiagaan karena melihat angkatan lain mengkonsinyir pasukannya. Setelah
semua pihak menyadari kesalahpahaman, maka kondisi kembali tenang. Semua
pasukan ditarik dari posisi yang sudah siap tempur dan Jakarta luput dari
pertempuran besar.
Soeharto
sendiri mengakui bahwa sekitar waktu itu, sudah ada yang berbisik-bisik pada
saya, untuk merebut kekuasaan dengan kekerasan. Tetapi tidak pernah terlintas
satu kalipun di benak saya untuk melakukannya. Tetapi di balik itu ada kesan
bahwa Soekarno tak terlalu bersikeras menunjukkan upaya menganulir keputusan
pembubaran PKI itu, meskipun sesekali tetap mengeluarkan pernyataan-pernyataan
keras. Timbul spekulasi bahwa ia sebenarnya telah mengalah pada Soeharto
mengenai soal PKI ini, hanya saja ia tak mau memakai tangan dan mulutnya
sendiri melakukan pembubaran itu. Dan adalah Soeharto yang melakukan hal itu 12
Maret setelah melalui suatu lekuk-liku proses kekuasaan yang khas Jawa bagaikan
dalam dunia pewayangan antara dirinya dengan Soekarno.
No comments:
Post a Comment